BERITA

Jakarta, Kota Terkasih? Udaranya Menduduki Peringkat Kedua Terburuk di Dunia

23
×

Jakarta, Kota Terkasih? Udaranya Menduduki Peringkat Kedua Terburuk di Dunia

Sebarkan artikel ini
Waduh, Masih Betah Tinggal di Jakarta Kualitas Udaranya Terburuk Kedua di Dunia
Waduh, Masih Betah Tinggal di Jakarta Kualitas Udaranya Terburuk Kedua di Dunia

Media90 (media.gatsu90rentcar.com) – Menurut data dari situs pemantau kualitas udara IQAir, pada Minggu, 12 Mei 2024, pagi, kualitas udara di wilayah DKI Jakarta berada dalam kategori tidak sehat. Bahkan, Jakarta berada di posisi kedua sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

Pukul 07.26 WIB, Indeks Kualitas Udara (AQI) di Jakarta mencapai angka 160, dengan konsentrasi partikel halus (PM) 2,5 sebesar 68,5 mikrogram per meter kubik.

Angka ini setara dengan 13,7 kali lipat dari nilai panduan kualitas udara tahunan yang disarankan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Jakarta hanya berada satu level di bawah Delhi, India, yang memiliki AQI sebesar 191. Di posisi ketiga terdapat Dhaka, Bangladesh, dengan AQI 157, dan Wuhan, China, dengan AQI 139.

Selain Jakarta, sejumlah kota besar lain di Indonesia juga mengalami penurunan kualitas udara. Tangerang Selatan (Banten) mencatat angka 174, Bandung (Jawa Barat) 170, dan Surabaya (Jawa Timur) 154.

Rekomendasi diberikan kepada masyarakat untuk menghindari aktivitas di luar ruangan atau menggunakan masker saat di luar, menutup jendela untuk mencegah masuknya udara kotor, dan mengaktifkan penyaring udara.

Sistem Informasi Lingkungan dan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta menyatakan bahwa kualitas udara secara keseluruhan untuk polusi udara PM2,5 berada pada kategori sedang, dengan indeks berkisar antara 70-88.

Meskipun demikian, kategori sedang ini tidak berpengaruh pada kesehatan manusia atau hewan, namun dapat mempengaruhi tumbuhan yang sensitif.

BMKG telah mengungkapkan bahwa Jakarta mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2024, yang kemuncaknya diperkirakan akan terjadi pada Juni 2024.

Bersamaan dengan itu, perkiraan polusi udara juga semakin meningkat di wilayah Jakarta.

Albert Nahas, Koordinator Sub Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG, menjelaskan bahwa fenomena iklim global seperti El Nino, La Nina, dan Dipole Mode Positif/Negatif turut mempengaruhi partikel polutan di Indonesia, termasuk di Jakarta.

La Nina, misalnya, berpengaruh pada konsentrasi PM2,5 di Indonesia dengan membagi wilayah menjadi Timur dan Barat berdasarkan respon PM2,5 terhadap La Nina.

Salah satu dampaknya adalah konsentrasi PM2,5 cenderung tinggi pada malam hingga pagi hari dan rendah pada siang hari.

“Fenomena iklim global dapat mempengaruhi iklim di Indonesia yang juga berakibat pada kondisi PM2,5,” ujar Nahas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *