IQRA

Menyingkap Ancaman Azab bagi Pembawa Fitnah dalam Islam: Hadits yang Mengingatkan

178
×

Menyingkap Ancaman Azab bagi Pembawa Fitnah dalam Islam: Hadits yang Mengingatkan

Sebarkan artikel ini
Menyingkap Ancaman Azab bagi Pembawa Fitnah dalam Islam Hadits yang Mengingatkan
Menyingkap Ancaman Azab bagi Pembawa Fitnah dalam Islam Hadits yang Mengingatkan

Media90 (media.gatsu90rentcar.com) – Sebelum membahas lebih lanjut tentang azab bagi tukang gosip, penting untuk membicarakan tentang godaan mulut dan kemaluan.

Organ-organ tubuh ini memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jika digunakan dengan benar, keduanya dapat menjadi sumber amal yang baik, seperti menggunakan mulut untuk berzikir.

Ada zikir yang ringan di lidah namun berat pahalanya di timbangan.

Sebagaimana disampaikan oleh Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw bersabda, “Ada dua kalimat yang ringan diucapkan tapi berat dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh Allah Swt. Dua kalimat tersebut adalah ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil’azhimi’.” Jika Anda mengucapkannya 100 kali sehari, itu artinya Anda telah menanam 100 pohon kurma di surga yang akan Anda tempati kelak.

Namun, hampir tidak ada orang yang bisa lepas dari godaan mulut dan kemaluan.

Dua organ ini memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari dan jika digunakan dengan cara yang berlebihan, kemungkinan untuk mengatakan kebohongan dan melakukan perbuatan buruk dengan kemaluan jauh lebih besar dari yang diperkirakan.

Dan tentu saja, dampaknya akan semakin besar.

Pernahkah Anda melihat bahwa satu keputusan yang diambil berdasarkan perkataan, baik atau buruk, dapat memiliki dampak selama puluhan tahun?

Mulut adalah alat komunikasi bagi manusia, sedangkan kemaluan adalah tempat reproduksi untuk menciptakan keturunan. Jika mulut dan kemaluan digunakan dengan baik, akan melahirkan kata-kata dan keturunan yang berkualitas.

Namun, jika digunakan dengan cara yang salah, hanya akan melahirkan keburukan yang dapat berdampak selama puluhan tahun.

Bahkan, keburukan yang dilakukan oleh orang penting dalam suatu negara dapat dicatat dalam sejarah.

Tidak perlu melihat jauh-jauh kepada orang penting, contoh-contoh bisa ditemukan di sekitar kita.

Banyak dari kita pernah membicarakan keburukan orang lain, baik dalam jumlah kecil maupun besar.

Gosip tersebar hampir di semua tempat. Asalkan ada mulut, gosip akan memiliki peluang untuk menyebar.

Ada banyak alasan mengapa orang tetap bergosip meskipun mereka tahu bahwa membicarakan aib orang lain dilarang dalam agama.

Ketika kita membicarakan keburukan orang lain, kita akan jatuh ke dalam salah satu dari dua jurang. Jika apa yang kita bicarakan adalah benar, itu disebut ghibah.

Sementara jika apa yang kita bicarakan tidak benar, itu merupakan fitnah. Mana yang lebih baik di antara keduanya? Sebenarnya tidak ada yang lebih baik, keduanya sama-sama berpotensi mendapat ancaman azab bagi tukang gosip.

Yang terbaik adalah diam. Jika mampu, kita harus mencegah orang lain saat mereka tengah bergosip.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas, Rasulullah Saw melewati dua kuburan dan bersabda, “Kedua penghuni kubur ini sedang mengalami siksaan. Mereka tidak dihukum karena dosa besar. Salah satunya dihukum karena buang air kecil di sembarang tempat, sedangkan yang lainnya dihukum karena menyebarkan perkataan orang lain (gosip).”

Setelah itu, Rasulullah Saw mengambil pelepah kurma yang masih basah, membaginya menjadi dua, dan menempatkannya di atas kedua kubur tersebut.

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah Saw, mengapa Anda melakukan hal ini?” Rasulullah Saw menjawab, “Semoga siksaan kedua penghuni kubur ini diringankan selama pelepah kurma ini masih basah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Setiap ucapan Rasulullah Saw adalah kenyataan yang tak dapat dibantah oleh siapapun.

Hadits di atas membuktikan bahwa gosip dapat menjadi penyebab azab kubur yang serius dan berulang-ulang.

Jika dosa gosip dianggap remeh, Rasulullah Saw tidak akan berujar, “Semoga siksaan kedua penghuni kubur ini diringankan.”

Begitu mulut membicarakan keburukan orang lain, sulit bagi seseorang untuk menghentikannya dan tidak melanjutkan untuk membicarakan lebih banyak keburukan orang lain.

Perilaku ini dapat berlanjut secara berulang. Gosip bisa menimpa siapa saja, bahkan seorang kiai pun dapat terjebak dalam dosa akibat ketidakmampuannya untuk mengendalikan mulutnya.

Apalagi bagi orang biasa? Ada yang bahkan bergosip karena kehabisan topik pembicaraan untuk menghindari suasana yang kaku dan hening.

Bagaimana cara untuk mengurangi ancaman azab bagi tukang gosip setelah kita terlanjur membicarakan keburukan orang lain? Ada dua langkah yang dapat dilakukan untuk menebus kesalahan tersebut.

Pertama, dengan meminta maaf kepada pihak yang dirugikan. Kedua, membicarakan lebih banyak kebaikan tentang orang yang sama (dalam proporsi yang lebih besar).

Dengan melakukan kedua langkah ini, selain mengurangi beban dosa, kita juga bisa membangun silaturahmi dan hubungan yang lebih baik antara sesama.

Namun, banyak yang masih merasa malu untuk meminta maaf dan enggan membicarakan kebaikan orang lain.

Oleh karena itu, syetan tidak pernah melewatkan kesempatan yang terbuka lebar tersebut. Bukan syetan yang membuka peluang tersebut, melainkan korban yang memberikan kesempatan.

Ada pepatah yang mengatakan, “Syetan tidak pernah salah.” Menyalahkan syetan tidak berguna, karena itu adalah tugasnya.

Tugas kita adalah menjaga diri dari jalan yang terbuka lebar untuk bisikan syetan masuk dan keluar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *