IQRA

Menguak Dampak Kesaksian Orang yang Masih Hidup terhadap Jenazah

100
×

Menguak Dampak Kesaksian Orang yang Masih Hidup terhadap Jenazah

Sebarkan artikel ini
Menguak Dampak Kesaksian Orang yang Masih Hidup terhadap Jenazah
Menguak Dampak Kesaksian Orang yang Masih Hidup terhadap Jenazah

Media90 (media.gatsu90rentcar.com) – Mungkin Anda sudah terlalu sering mendengar pepatah, “Harimau mati meninggalkan belang, kambing mati meninggalkan tanduk, gajah mati meninggalkan gading, dan manusia mati meninggalkan nama.”

Setiap makhluk hidup meninggalkan hal-hal penting yang menjadi identitasnya semasa hidup.

Dibandingkan dengan tubuh, nama manusia akan jauh lebih dikenang oleh orang-orang yang masih hidup.

Oleh karena itu, anjuran untuk melakukan perbaikan dan kebaikan selalu disuarakan dari mimbar ke mimbar, dari mulut ke mulut, dan dari sikap ke sikap.

Manusia memang tempatnya salah dan lupa, ketika tiada lagi yang mengingatkan, hanya bayang-bayang hitam maupun ajakan untuk berbuat buruklah yang selalu menyinggahi hatinya. Seruan kebaikan bisa diumpamakan sebagai nyala obor di tengah gulitnya malam.

Pada hari ini, apa saja yang Anda persiapkan untuk mati? Lebih perhatian mana, mempersiapkan diri untuk menjadi orang kaya, atau menjadi calon jenazah yang layak mendapatkan kehidupan terbaik di akhirat?

Biasanya orang akan memilih yang pertama, sebab wajah surga terlalu bias daripada koin di genggaman tangan.

Hal ini bukan mustahil. Dari hari ke hari kita bisa melihat orang-orang berlomba meninggikan gedung dan memperindah dinding bangunan agar mendapat pujian dari sesama.

Padahal pujian seperti itu tidak berharga dan tidak bisa menolongnya sedikit pun untuk kehidupannya kelak di akhirat. Kebanyakan acuh terhadap bangunan yang ada dalam jiwa mereka sendiri.

Kalau boleh kita jujur, biasanya penilaian seseorang terhadap sesama yang masih hidup tidak sepenuhnya benar.

Benar dalam arti apa yang diucapkan di lidah tidak sejalan dengan gerak hati.

Namun sebaliknya, misalnya, ketika Anda memuji seseorang yang sudah meninggal, biasanya potensi Anda berkata jujur lebih besar.

Hal ini tidak bisa dirumuskan atau direncanakan. Semua telah berjalan secara alami.

Namun, apakah Anda sudah tahu bahwa kesaksian orang yang masih hidup terhadap jenazah memiliki dampak yang besar?

Mungkin sebagian orang sudah tahu, tapi tidak menjamin sebagian lain mengetahui. Untuk lebih lengkapnya, silakan Anda menyimak hadits berikut ini.

Rasulullah SAW bersabda: “Tiadalah empat orang muslim yang bersaksi kalau seorang jenazah itu baik, maka Allah pun memasukkannya ke dalam surga.”

Kami (sahabat) berkata: “Bagaimanakah seandainya hanya 3 orang saksi?” Nabi Saw menjawab: “Meskipun hanya tiga.” Kami (sahabat) kembali berkata: “Seandainya hanya dua?” Beliau menjawab kembali: “Walaupun hanya dua.” Kemudian kami tak lagi bertanya seandainya hanya satu saksi. (HR. Imam Bukhari).

Hadits di atas membuktikan betapa dahsyatnya dampak dari hasil pekerjaan manusia di bumi. Bukan hanya amalan yang bisa membuatnya bisa memasuki jannah-Nya.

Seluruh perbuatannya semasa hidup akan disaksikan oleh orang-orang di sekelilingnya.

Dan kesaksian mereka akan menentukan apakah jenazah tersebut layak menggapai surga atau justru tercebur ke dalam lautan api neraka.

Sekali lagi, ini tidak bisa dirumuskan maupun dibuat-buat. Semua telah berjalan secara alami, jika kesaksian orang terhadap manusia yang telah meninggal biasanya mengandung lebih banyak nilai kejujuran daripada hal-hal yang bersifat intimidasi, intervensi, maupun hal-hal yang bersifat menjatuhkan.

Mau menjatuhkan apa, sementara orang tersebut lebih dari jatuh, melainkan terkubur di dalam bumi?

Mungkin Anda akan bertanya satu hal terkait hadits di atas. Mengapa para sahabat tidak bertanya seandainya orang yang bersaksi hanya berjumlah satu?

Jawaban yang paling sederhana tentu saja karena manusia adalah makhluk sosial. Tidak mungkin ia hidup hanya ditemani oleh satu orang. Kalaupun ada, tentu kesaksiannya tidak bisa dijadikan pegangan.

Dalam pernikahan pun, saksi yang hadir minimal dua orang agar pernikahan bisa dianggap sah dalam agama.

Bahkan perihal menuntut ilmu, Anda pun tidak bisa langsung membuat fatwa begitu saja kalau hanya berguru pada satu ustadz.

Perlu lebih dari satu guru agar ilmu yang Anda dalami memiliki referensi yang terjamin dan bisa meyakinkan banyak orang. Begitu pun perihal kesaksian orang yang masih hidup terhadap jenazah.

Namun, ada hal yang patut Anda hindari ketika memberikan kesaksian terhadap jenazah. Semua yang Anda sampaikan sebaiknya murni berdasarkan nurani Anda.

Bukan dibuat-buat, sebab nanti jatuhnya pada kesaksian palsu. Dampak dari kesaksian palsu ini berat. Apakah ada hadits yang mendasarinya? Ada.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah suatu kali ditanya perihal dosa-dosa besar.” Kemudian Rasulullah SAW menjawab: “Mempersekutukan Allah Swt, membunuh jiwa, dan kesaksian palsu.”

Kesaksian palsu bahkan melebihi dosanya orang yang berzina. Na’udzubillah. Oleh karena itu, Anda harus hati-hati dalam memberikan kesaksian terhadap orang yang sudah tiada.

Sebab, hal itu bisa berdampak untuk Anda, maupun bagi ia yang telah tiada.

Tanamlah dan sebarlah benih-benih kebaikan sebanyak mungkin di hamparan bumi yang kering dan hitam ini, agar kita bisa menuai kebaikan pula setelah meninggalkan bumi yang semakin tua ini.