BERITA

Upaya Dompet Dhuafa dalam Budidaya Ulat Maggot untuk Mendukung Pengelolaan Sampah dan Pemberdayaan Warga Karang Anyar Jati Agung, Lampung Selatan

133
×

Upaya Dompet Dhuafa dalam Budidaya Ulat Maggot untuk Mendukung Pengelolaan Sampah dan Pemberdayaan Warga Karang Anyar Jati Agung, Lampung Selatan

Sebarkan artikel ini
Olah Sampah, Dompet Dhuafa Bina Warga Karang Anyar Jati Agung Lampung Selatan Budidaya Ulat Maggot
Olah Sampah, Dompet Dhuafa Bina Warga Karang Anyar Jati Agung Lampung Selatan Budidaya Ulat Maggot

Media90 (media.gatsu90rentcar.com) – Dompet Dhuafa baru-baru ini memperkenalkan program inovatif mereka yang disebut “Maggotin” di Desa Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan.

Acara peluncuran program ini pada hari Minggu, 15 Oktober 2023, menandai awal dari budidaya ulat maggot pertama yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa di Indonesia.

Maggotin bertujuan untuk mengurangi masalah sampah, khususnya limbah organik, dan sekaligus memberdayakan masyarakat.

Acara peluncuran ini dihadiri oleh Herman Budianto, General Manager Dakwah, Budaya, dan Lingkungan Dompet Dhuafa, Yayan Ruchyansyah, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, dan Irwan Khozali, Sekretaris Camat Jati Agung.

Program Maggotin adalah proyek percontohan Dompet Dhuafa dalam upaya mengurangi masalah sampah dan memberdayakan ekonomi masyarakat.

Yogi Achmad Fajar, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Lampung, menjelaskan, “Kami berharap ada perubahan signifikan terhadap lingkungan dengan mengurai sampah organik. Kegiatan ini melibatkan 20 orang sebagai solusi olah sampah dan mendorong ekonomi produktif.”

Dompet Dhuafa telah menyumbangkan dana sebesar Rp20 juta untuk mendukung program ini, dengan penerima manfaat utama adalah Paiman, seorang warga Karang Anyar.

Yogi Achmad Fajar menambahkan bahwa program ini melibatkan masyarakat secara langsung sebagai bagian dari solusi dalam mengelola sampah organik dan mendukung perekonomian lokal.

Herman Budianto menjelaskan, “Dompet Dhuafa hadir untuk memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh masyarakat, seperti masalah sampah, terutama karena sebagian besar sampah belum terkelola dengan baik.”

Budidaya ulat maggot merupakan salah satu solusi yang menarik karena ulat maggot ini memakan sampah organik. Herman menambahkan, “Maggot ini bisa digunakan sebagai pakan untuk budidaya ikan lele, ternak ayam, dan bebek. Lele bisa dipanen dalam waktu hanya 2,5 bulan.”

Dompet Dhuafa, sebagai lembaga filantropi Islam dan kemanusiaan yang berdiri sejak tahun 1993, terus berinovasi dalam upaya untuk memberdayakan masyarakat dan menciptakan dampak positif dalam masyarakat.

Program Maggotin adalah salah satu contoh dari upaya mereka untuk mengatasi permasalahan sampah organik dan mendukung kelestarian lingkungan.

Herman Budianto menjelaskan, “Maggotin adalah salah satu program lingkungan Dompet Dhuafa yang bertujuan mengurangi sampah, khususnya sampah organik. Program Maggotin merupakan terobosan dalam pengelolaan sampah dengan konsep pemberdayaan.”

Salah satu keunggulan ulat maggot adalah kemampuannya dalam mengurai sampah dengan sangat cepat. Dalam waktu 24 jam, 10 ribu ekor maggot BSF dapat mengurai 5 kg sampah organik.

Ulat maggot juga mampu memakan sampah organik hingga dua hingga lima kali berat badannya per hari.

Selain manfaat pengurangan sampah, Dompet Dhuafa juga melihat penggunaan ulat maggot sebagai sarana edukasi tentang pentingnya kelestarian lingkungan.

Program Maggotin yang diresmikan pertama kali di Desa Karang Anyar, Lampung Selatan, diharapkan menjadi percontohan dan sumber inspirasi untuk gerakan pengelolaan sampah dari rumah.

Yogi Achmad Fajar menutup dengan mengatakan, “Kelompok yang terdiri dari kurang lebih 20 orang ini ke depannya akan mengelola kandang maggot dengan kapasitas penguraian sampah di atas 500 kg per hari. Sehingga dalam waktu satu bulan, potensi penguraian sampah organik di kandang maggot ini sebesar 15 ton.”

Program Maggotin Dompet Dhuafa diharapkan dapat menjadi langkah awal yang positif dalam menghadapi masalah sampah organik dan memberikan dampak positif pada lingkungan dan perekonomian masyarakat setempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *