BERITA

Kedatangan Si Kembar: Cerita Kehadiran Indra dan Anggi, Dua Badak Mungil di Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur

87
×

Kedatangan Si Kembar: Cerita Kehadiran Indra dan Anggi, Dua Badak Mungil di Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur

Sebarkan artikel ini
Dua Bayi Badak Kelahiran Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur Dinamakan Indra dan Anggi
Dua Bayi Badak Kelahiran Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur Dinamakan Indra dan Anggi

Media90 (media.gatsu90rentcar.com) – Suaka Rhino Sumatra (SRS) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, merayakan kedatangan dua anggota baru yang menggembirakan: Indra dan Anggi, dua anak badak yang baru saja melihat dunia ini. Nama mereka tidak hanya memiliki makna khusus, tetapi juga mengandung harapan besar untuk melestarikan lingkungan.

Pada Sabtu, 9 Desember 2023, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, memberikan nama Indra kepada badak jantan dan Anggi kepada badak betina.

Kedua nama tersebut diambil dari tokoh-tokoh yang telah berperan penting dalam pelestarian lingkungan, yakni mantan Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Indra Exploitasia, dan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Anggia Erma Rini.

Siti Nurbaya menjelaskan alasan di balik pemilihan nama tersebut, “Keduanya memiliki peran penting dalam persoalan lingkungan. Artinya, nama badak ini sebagai pengingat bahwa kedua tokoh ini pernah mengabdi pada negara dalam urusan lingkungan.”

Indonesia, sebagai rumah bagi dua spesies badak paling langka di dunia, yaitu badak Jawa dan badak Sumatera, memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keberlanjutan hidup mereka.

Badak Jawa mendiami Taman Nasional Ujung Kulon, sementara badak Sumatera tersebar di Kawasan Ekosistem Leuser-Aceh, Kalimantan Timur, dan Taman Nasional Way Kambas.

Taman Nasional Way Kambas bukan hanya tempat tinggal bagi badak, melainkan juga menjadi habitat untuk berbagai satwa liar dilindungi lainnya, seperti tapir, gajah sumatera, harimau sumatera, dan beruang madu.

Pada 25 Juli 2016, Taman Nasional Way Kambas diakui sebagai ASEAN Heritage Park ke-36, menegaskan perannya dalam pelestarian keanekaragaman hayati.

Siti Nurbaya menyoroti upaya pengelolaan TNWK dengan membangun berbagai sarana dan prasarana untuk konservasi spesies, penanggulangan konflik, dan pengelolaan kepentingan publik.

Namun, tantangan besar masih ada, terutama dalam upaya menyelamatkan badak Sumatera yang pada tahun 2010 telah dinyatakan sebagai spesies yang sangat terancam punah (critically endangered) dengan jumlah individu global kurang dari 250 ekor.

Menurut laporan Balai TN Way Kambas pada 2019, hanya ditemukan dua ekor badak Sumatera di wilayah tersebut.

Saat ini, jejak dan tanda-tanda kehadiran mereka menjadi satu-satunya petunjuk, sementara individu badaknya sendiri tidak terlihat.

Siti Nurbaya mencatat bahwa kemungkinan perburuan liar marak sejak tahun 2012, meskipun belum tertangkap oleh kamera trap.

Dengan kelahiran Indra dan Anggi, diharapkan bahwa mereka tidak hanya menjadi harapan baru bagi kelangsungan hidup badak Sumatera, tetapi juga memotivasi upaya lebih lanjut dalam pelestarian dan perlindungan lingkungan.

Semoga langkah-langkah yang diambil di Taman Nasional Way Kambas dapat menjadi inspirasi bagi upaya konservasi di seluruh Indonesia, dan bahkan di dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *