OTOMOTIF

Pelaksanaan Biodiesel B35 yang Tidak Merata: Menciptakan Sinergi Antar Instansi untuk Kemajuan yang Seragam

141
×

Pelaksanaan Biodiesel B35 yang Tidak Merata: Menciptakan Sinergi Antar Instansi untuk Kemajuan yang Seragam

Sebarkan artikel ini
Implementasi Biodiesel B35 Belum Merata, Sinergi Antar Instansi Harus Tercipta
Implementasi Biodiesel B35 Belum Merata, Sinergi Antar Instansi Harus Tercipta

Media90 (media.gatsu90rentcar.com) – Pemerintah Indonesia telah meluncurkan inisiatif penggunaan bahan bakar Biodiesel B35 sebagai langkah strategis dalam mengurangi emisi gas buang yang berdampak pada lingkungan.

Harapannya, implementasi B35 dapat secara signifikan mengurangi jumlah emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan.

Diperkirakan bahwa penggunaan B35 memiliki potensi untuk mengurangi hingga 34,9 juta ton CO2e.

Namun, upaya distribusi B35 hingga saat ini belum terlaksana secara merata di seluruh pelosok Tanah Air.

Elan Biantoro, yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (ASPERMIGAS), mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam mengatasi ketidakmerataan ini adalah menciptakan sinergi yang efektif antara berbagai instansi pemerintah terkait.

“Keterlibatan Departemen Pertanian dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) perlu diintegrasikan dengan peran koordinator utama, yaitu Pertamina. Kolaborasi yang sinergis antara instansi-instansi ini menjadi hal yang sangat penting,” ujarnya dalam wawancara dengan Media90 di Jakarta pada tanggal 23 Agustus 2023.

Elan juga menyoroti bahwa sumber daya alam merupakan hambatan lain dalam implementasi B35. Ia menjelaskan, “Kita perlu berpikir secara rasional apakah kita memiliki kapasitas dan sumber daya alam yang cukup untuk menyediakan bahan bakar seperti B35 sesuai dengan kebutuhan.”

Masalah ini melibatkan pertimbangan penting terkait kelangsungan pasokan bahan baku dalam jumlah memadai.

Biodiesel B35 terdiri dari campuran minyak sawit sebesar 35 persen dan sisanya adalah Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar.

B35 merupakan kelanjutan dari program sebelumnya, yaitu B30.

Penggunaan B35 diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor solar dan berpotensi menghemat devisa negara hingga mencapai Rp161,25 triliun.

Menariknya, B35 merupakan satu-satunya bahan bakar diesel di dunia yang memiliki kandungan bahan nabati dengan persentase tertinggi, seperti yang diungkapkan oleh Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

Namun, Nangoi juga mengakui adanya beberapa kelemahan dalam B35, seperti sifatnya yang higroskopis yang mengakibatkan kandungan air harus selalu dijaga dalam batas tertentu.

Selain itu, efisiensi bahan bakar perlu ditingkatkan karena proses pembakarannya yang belum sempurna.

Cetane Number (CN) dalam B35 juga perlu ditingkatkan untuk memenuhi standar Euro 4 yang berlaku di Indonesia.

Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, sinergi antara berbagai instansi pemerintah, industri, dan ahli teknis akan menjadi kunci dalam mengoptimalkan potensi Biodiesel B35 sebagai solusi berkelanjutan dalam mengurangi emisi dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Dengan komitmen dan kerja sama yang kuat, diharapkan distribusi B35 dapat disebarluaskan secara merata, mendukung lingkungan, dan berkontribusi positif terhadap perekonomian nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *