BERITA

Meskipun Diterpa Bintik dan Leles, Petambak Bumi Dipasena Sejahtera Tulang Bawang Berhasil Panen 1,7 Ton Udang Vaname

102
×

Meskipun Diterpa Bintik dan Leles, Petambak Bumi Dipasena Sejahtera Tulang Bawang Berhasil Panen 1,7 Ton Udang Vaname

Sebarkan artikel ini
Diterpa Bintik Hingga Leles, Petambak Bumi Dipasena Sejahtera Tulang Bawang ini Sukses Panen 1,7 Ton Udang Vaname
Diterpa Bintik Hingga Leles, Petambak Bumi Dipasena Sejahtera Tulang Bawang ini Sukses Panen 1,7 Ton Udang Vaname

Media90 – Selama tiga tahun terakhir, budidaya udang di wilayah Dipasena, Tulang Bawang, mengalami masa sulit akibat perubahan iklim ekstrem dan serangan penyakit yang menyebabkan banyak petambak gagal panen.

Banyak tambak dibiarkan kosong karena pemiliknya bangkrut dan kehabisan modal. Namun, di tengah kesulitan ini, masih ada kisah sukses yang jarang terungkap, salah satunya dari petani tambak Blok 12 Jalur 39 Nomor 04, Kampung Bumi Dipasena Sejahtera, Rawajitu Timur, Tulang Bawang, bernama Sarwanto (55).

Kepada Media90, Sarwanto mengaku berhasil panen dua kali dalam setahun terakhir dengan hasil memuaskan. Pada Minggu (9/6/2024), ia berhasil memanen 1,7 ton udang vaname dari dua kolam tambaknya.

Sarwanto memanen udangnya pada usia 80 hari dengan ukuran 53 dan 59. Harga udang dengan ukuran standar saat ini mencapai Rp63.000 per kilogram, dengan rasio konversi pakan (FCR) 1,1.

“Alhamdulillah, dua kali periode saya panen di atas satu ton. Yang terakhir kemarin, saya panen 1.745 kg dengan total penjualan Rp114 juta,” kata Sarwanto pada Senin (10/6/2024).

Saat ditanya tentang kiat keberhasilannya dalam budidaya yang aman dari penyakit bintik putih (white spot disease), penyakit berak putih (white feces disease), dan acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND) atau dikenal dengan Leles, Sarwanto mengaku hanya mempraktikkan hasil diskusi dan kunjungannya ke pembudidaya udang di Banyuwangi, Jawa Timur, tahun lalu.

“Saya menjaga lingkungan tambak agar udang tidak stres, caranya dengan meminimalkan kebocoran tambak, membersihkan lumpur dasar tambak, memasukkan air dengan densitas kecil namun konstan, menggunakan benur dan pakan berkualitas, serta menyediakan sarana budidaya yang memadai, termasuk genset cadangan untuk antisipasi pemadaman listrik PLN,” ujar Sarwanto.

Menurut Sarwanto, jika tidak memiliki genset cadangan, udangnya mungkin harus dipanen dini akibat pemadaman listrik PLN yang berlangsung lebih dari 24 jam beberapa hari lalu.

“Memang udang saya sudah masuk waktu panen saat listrik PLN padam, tapi panen dadakan bisa merusak kualitas udang karena tidak ada pompa dan es,” ungkap Sarwanto.

Sementara itu, Kepala Bidang Budidaya Perhimpunan Petambak Pembudidaya Udang Wilayah Lampung (P3UWL), Suryadi, menjelaskan bahwa pihaknya menghimbau anggota P3UW Lampung untuk mencari informasi dan mencontoh petambak yang berhasil.

“Dalam kesulitan dan kegagalan pasti ada contoh keberhasilan. Kita perlu melakukan amati, tiru, dan modifikasi,” jelas Suryadi.

Suryadi mencontohkan keberhasilan Sarwanto, yang melakukan amati, tiru, dan modifikasi dari petambak di Banyuwangi.

Keberhasilan ini dapat diadopsi oleh petambak lain untuk meraih kesuksesan. Selain itu, kerjasama dan kekompakan petambak di Kampung Bumi Dipasena Sejahtera menjadi faktor pendukung utama keberhasilan budidaya.

Bagi Suryadi, sterilisasi saluran pasok, penggunaan probiotik, serta lingkungan sosial yang kompak dan nyaman merupakan faktor utama keberhasilan budidaya.

Keberhasilan Sarwanto memberikan harapan baru bagi petambak lain di wilayah Dipasena untuk terus berjuang dan mencari solusi inovatif dalam budidaya udang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *